Laman

Kamis, 05 Maret 2015

Roda Kehidupan part 2



Hai Pembaca, Selamat pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, dan Selamat Malam hihi. Tergantung kalian bacanya kapan ya. Hari ini aku mau menyambung curahan ku kemarin, karena lagi ada waktu kosong, aku nyempati buat nuntasin yang ada di dalam hati, tapi aku lupa dan bingung mau nyambung dari mana, jadi misal ada kesamaan cerita dengan cerita kemarin aku mohon maaf ya.

Hari ini Tanggal 05 march 2015, seperti biasa aku mejalani kehidupan monoton ku, bangun, cek HP, cek Laptop, dan cek Tubuh, ada yang hilang gak. Kalo ternyata gak ada yang hilang berarti kehidupan ku berjalan seperti hari hari sebelumnya. Semenjak aku keluar dari perusahaan terakhir kali aku bekerja, kehidupan ku cukup monoton. Hanya itu-itu aja dari pagi sampai pagi lagi gak ada yang menarik. Sempat terlintas di otak untuk tidak pulang kerumah supaya keseharian monoton itu tidak datang lagi. Tapi, seperti yang kalian ketahui aku hanya anak satu-satunya Ibu ku, jadi aku tidak mau membuat Orangtua ku khawatir karena hal bodoh yang aku lakukan. Jadi aku harus bersabar lagi menghadapi roda nasib yang belum berputar.

Aku pernah berpikir kenapa aku yang sekarang menjadi sangat pendiam, tidak seperti waktu dulu aku masih BAJINGAN. Apa karena trauma waktu sekolah dulu yang membuat aku menjadi penggalau gini, apa karena takdir hidup ku yang seperti ini? Aku selalu mencoba untuk mengingat-ingat, tapi hasilnya nihil, aku lupa kenapa aku menjadi seperti sekarang ini, padahal dulu aku anak yang sanga aktif, periang, dan jahil. Dibandingkan aku yg dulu, aku bukan lah apa-apa melainkan pengangguran yang hobi mengkritik kehdupan.

Aku memiliki perinsip mencintai yaitu, “Memacari sampai menikah, dan menjadi Suami, Ayah, atau Kepala Keluarga sampai maut menjemput”. Dari perinsip ini juga yang membuat ku bisa bertahan hidup sampai sekarang. Mungkin jika kalian menjalani hidup seperti aku sekarang beberapa dari kalian berpikir lebih baik “Mati Aja” tapi aku gak serendah itu berpikir. Sebab masih banyak hal yang belum aku lakukan dan ketahui.

Orang-orang banyak bermimpi untuk menjadi pengusaha kaya, tapi mimpiku cukup simple, menjadi seorang Suami, Ayah, dan Kepala Keluarga. Karena aku sangat ingin merasakan punya istri itu gimana rasanya, punya anak itu gimana rasanya, dan menjadi orang terpenting di keluarga itu gimana rasanya. Aku selalu berdoa pada yang Maha Kuasa supaya Diriku sehat selalu, umurku panjang, dan banya rezeki, supaya aku bisa menyenangkan seluruh keluargaku dan orang-orang di dunia ini.

Aku suka menolong orang yang lagi kesulitan, tapi terkadang ada suatu hal yang membuat aku menjadi takut untuk membantu orang-orang yang lagi kesulitan, yaitu sebuah kata-kata yang simple tapi sangat menyakitkan yaitu MODUS. Ya kata itu lah yang membuat aku terkadang menjadi kaku dan beku untuk menolong orang-orang, sebab waktu dulu aku pernah menolong seorang wanita dan adik laki-lakinya yang terserempet mobil di sebuah simpang jalan, aku mencoba menolong dengan membantu mereka berdiri dan membelikan air minum, tapi apa coba yang di katakan orang-orang “ih MODUS MODUS pastilah MODUS” coba kalian pikir ketika kita membantu dengan ikhlas tapi yang didapat malah hinaan itu rasanya gimana, mau marah, tapi tidak mungkin kan kita marah karena hal itu, jadi aku cuman diam dan mencoba pergi dari keramaian itu.

Dari situ aku belajar, bahwa ini pasti karma waktu aku SMA (SMK) dulu, memang aku ini cocoknya menjadi BADBOY, Gak cocok jadi GOODBOY. Aku ini mungkin hanya seorang perusuh dan seorang pengacau yang berotak mesum. Mulai dari situ juga timbul rasa tidak suka membantu orang dengan imbalan, dan disitu juga terbuat perinsip “aku rela berdosa untuk membantu orang-orang disekitarku” ya aku rela menjadi pendosa, yang penting orang-orang disekitarku bisa hidup tenang dan senang. Tapi walau begitu pengorbananku ini kadang tidak dihargai oleh orang-orang, malah semakin membuat aku menjadi buruk dimata orang-orang.

Hidup menjadi pendosa itu tidak mudah, ketika kita menuju jalan tuhan pasti banyak hinaan dari orang sekitar kita. Contohnya, misal kita mau sholat akan banyak kata-kata hinaan seperti “Tumben sholat enggak kayak biasanya” dan misal kita mau membantu orang akan keluar lagi kata MODUS, MODUS, DAN MODUS!!!!. Sebenarnya jujur aku benci mengalami hidup ini. Tapi, kalo bukan aku yang menjalani siapa lagi coba?

Masalah percintaan? Cinta, cinta, dan cinta, ya sebuah kata yang simple tapi membuat orang rela melakukan apa aja untuk mendapatkannya. Kehidupan percintaanku sebenarnya cukup menyenangkan dan juga sangat menyedihkan. Waktu SMA (SMK) dulu aku banyak memacari wanita dari sekian banyak wanita hanya 3 dulu yang pernah aku anggap serius tapi 3 wanita itu juga yang memberi aku sebuah pelajaran beharga tentang kehidupan. Yang pertama adalah Ulfa Oktaviani, seorang gadis cantik dan belia yang kusayang dan kucintai itu waktu pertama kali aku pacari dia berusia 14 tahun, jadi beberapa menyebut cinta kami cinta monyet, ya emang bener sih beberapa kali kami putus nyambung putus nyambung dan akhirnya, beneran putus gak nyambung-nyambung. Cara kami memutuskan hubungan untuk terakhir kali sebenarnya cukup mengerikan bagiku dan cukup malu untuk aku ceritakan. Jadi kita lewati aja. Yang kedua adalah Monita Mayangsari, wanita manis berambut panjang, yang katanya dia aku adalah ciuman pertamanya. Dan seperti biasa roda nasib ku masih di bawah, dia berselingkuh dengan sahabatku sendiri, tanpa pikir panjang aku meninggalkan dia dengan sahabatku, karena bagiku itu lebih baik, dari pada kehilangan seorang sahabat. Yang ketiga dan yang sangat aku cintai sampai sekarang dia adalah seorang gadis lumpuh yang hanya bisa melakukan apapun dari kursi roda dan juga orang yang membuatku menjadi polos? Dan sepertinya aku mulai teringat kenapa aku berubah total dengan sifat ku yang dulu yaitu karena wanita ini, yang selalu menuntun ku kejalan yang benar. Ya wanita itu adalah Putri Kartika Sari Widyadiningrat, wanita cantik yang seolah hidupku itu bagaikan mimpi pernah berpacaran dengan nya, tapi percintaan kami cukup singkat dia menderita kanker hati, yang membuat dia meninggal dunia. Dan disini sekali lagi kesabaran ku dicoba kembali.

Dari lubuk hati yang paling dalam sebenarnya aku sangat sedih sekali, kenapa nasib percintaanku di masa sekolah dulu selalu tidak menyenangkan? Apa karena aku suka melakukan hal buruk dan ini karma buat aku? Tapi kenapa harus berlanjut sampai sekarang karma ini? Apa aku harus membayar semua kejahatan yang pernah kulakukan di masa sekolah dulu? Aku selalu bertanya pada tuhan tapi sepertinya tuhan belum menjawab doaku.

Tapi, aku harus tetap berjuang supaya aku bisa menggapai mimpi dan cita-citaku.

“Hidup tanpa perjuangan itu bagaikan hidup tapi mati, karena tidak ada suatu hal untuk diperjuangkan, dan hidup harus tetap terus semangat walaupun roda nasib belum berputar. tapi ingatlah bahwa roda pasti akan berputar jika kita tidak menyerah untuk mendorongnya”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar